Tausiyah Ramadhan 2021 (Seri1) “AlQuran Kitab Kemanusiaan”

oleh -Dibaca sebanyak 61 kali
Andi Muhammad Asbar. (Doc. Fb)

Bulukumbapos.com – Al-Qur’an bukan referensi kekerasan atau peperangan atas nama Tuhan dan agama. Ironinya, segelintir di antara manusia yang ber-Tuhan atau atas nama agama tersebut, dipakai sebagai alasan kehalalan untuk menindas, membunuh, dan berlaku tidak adil. Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Didalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia menyikapi hidup, dan kehidupan ini secara lebih bermakna.

Dalam kenyataannya Islam sekarang menampilkan keadaan yang jauh dari cita-cita ideal tersebut. Ibadah yang dilakukan umat Islam seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya hanyalah sebatas menunaikan kewajiban dan menjadi lambang kesalehan yang ikonis. Sedangkan, buah dari ibadah yang berdimensi kepedulian sosial sudah kurang nampak.

Dikalangan masyakarat telah terjadi kesalahpahaman dalam memahami dan menghayati pesan simbolis keagamaan itu. Akibatnya, agama lebih dihayati sebagai penyelamatan individual, dan bukan sebagai persoalan sosial yang berlaku generik. Tuhan seolah-olah tidak hadir dalam problematik sosial kita, kendati nama-Nya juga rajin disebut. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi tentang masalah kehidupan, dan kemanusiaan.

Sistem ritual dan peribadatan seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, diwahyukan dalam Al-Qu’ran, bukan bagi kepentingan diri Tuhan, bukan pula agar manusia menyibukkan diri mengurus, dan memanjakan Tuhan. Seluruhnya diperuntukkan bagi kepentingan manusia dalam kehidupan duniawi yang dinamis, dan berkesinambungan, serta berubah. Ritus-ritus yang telah ada dalam sejarah peradaban keagamaan di masa lalu, telah diubah Al-Qur’an sebagai aksi, dan pemihakan pada kemanusiaan. Karena itu, Al-Qur’an menyatakan kehadirannya sebagai suatu kritik atau dzikr (peringatan) terhadap tradisi dan kebiasaan hidup manusia yang tak produktif. Kitab ini terus mengingatkan agar manusia selalu waspada, sadar diri, senantiasa dalam keadaan jaga, dalam keadaan iman, dan dalam situasi ritual yang abadi. Inilah makna takwa dan berserah diri secara ‘kaffah’ kepada Allah, sehingga manusia bisa mencapai kedekatan yang terdekat pada dengan Tuhan.

Selama ini, Al-Qur’an yang diwahyukan Allah di bulan suci Ramadhan, hampir selalu dibicarakan dalam perspektif ketuhanan. Patut diketahui, kitab suci Al-Qur’an itu diwahyukan bukan hanya bagi kepentingannya Allah, tetapi bagi pelayanan kepentingan manusia sendiri. Tuhan tidak sedang menceritakan tentang diri-Nya, tetapi kisah tentang alam semesta, cakrawala langit dan angkasa, bumi, bulan, matahari, planet dan bintang, alam tumbuhan, hewan, manusia, dan lainnya. Sekali waktu Tuhan, seperti unjuk diri melalui proses kejadian, dan perkembangan dari beragam ciptaan-Nya itu.
Melalui cara itu, Tuhan bermaksud mendorong bangkit dan tumbuhnya kesadaran natural, dan kemanusiaan yang berbuah iman.

Turunnya al-Qur’an adalah cara Tuhan meyakinkan umat manusia bahwa kepengikutan pada agama yang sesuai fitrah (jati diri) manusia, adalah dasar bagi kebaikan hidupnya, dan alam semesta. Dalam terang cahaya wahyu-Nya, Al-Qur’an memaparkan tentang sejarah suatu bangsa dan sekelompok manusia. Suatu saat, sekelompok manusia itu telah tumbuh berkembang sebagai bangsa yang kuat dan besar, di saat lain hancur lebur bagai ditelan sejarahnya sendiri.

Kita bisa membaca kisah-kisah dramatis bagaimana kegagalan Nabi Nuh menyelamatkan anaknya sendiri, dan kaumnya merupakan kisah dramatis Al-Qur’an sebagai iktibar atau percontohan bagi manusia di abad ini. Kisah Maryam kala melahirkan Nabi Isa as. adalah sebuah drama dari revolusi gender dunia modern, saat seorang perempuan mengubah dunia, dan mengukir sejarah sendiri melalui anak yang dilahirkan.

Dengan cara seperti itu, Al-Qur’an memfungsikan diri sebagai petunjuk bagi manusia agar bisa membedakan jalan hidup yang terang, dan jalan hidup yang gelap. Al-Qur’an adalah cahaya terang di atas segala cahaya, kebaikan di atas segala kebaikan, dan kebenaran di atas segala kebenaran. Melalui cara demikian itulah, setan dan segala kemaksiatan gagal berfungsi, bukan karena dilarang, namun terhisap atas segala kebagusan isi kitab suci itu. Al-Qur’an menggunakan kalimat “cahaya di atas cahaya” (nuur ‘ala al-nuur) dalam melukiskan kemampuan dialektik dirinya untuk menarik ke atas semua sistem yang pernah ada dalam sejarah. Sayang, cara seperti ini lebih sering dipakai kaum Muslim untuk meneguhkan pendapat sendiri, sebagai legalisasi menggilas semua orang yang berpendapat lain dan berbeda darinya.

Karena itulah mengapa para Rasul diberi mukjizat guna meyakinkan umatnya atas kebenaran wahyu Tuhan yang termaktub dalam kitab-kitab suci-Nya. Mukjizat adalah sebuah media memenangkan kebenaran, dan kebaikan tanpa membuat pihak, atau orang lain merasa kalah. Bulan suci Ramadhan yang diyakini sebagai waktu Tuhan membuka pintu surga dan pintu taubat, menebarkan rahmat kasih sayang dan ampunan, adalah momentum penting merenungkan kembali makna fundamental ayat-ayat Al-Qur’an untuk kedamaian, juga untuk kepentingan kemanusiaan.

Dari sini kita bisa berharap pintu neraka benar-benar tertutup, dan setan terperangkap ke dalam penjara yang berarti tidak bisa berfungsi pada setiap sistem yang merusak keharmonisan hidup antarmanusia, dan dengan alam itu sendiri.

Oleh : Andi Muhammad Asbar
Dosen STAI Al-Gazali Bulukumba
Sekertaris Majelis Dai Muda Bulukumba

Ikhwan /BP