Puluhan Guru Ikuti Workshop Penguatan Moderasi Beragama di MIN 1 Bulukumba

Bulukumbapos — Puluhan guru dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Raudhatul Athfal (RA), serta para kepala madrasah MI, mengikuti Workshop Penguatan Moderasi Beragama yang digelar di Aula MIN 1 Bulukumba, Selasa (21/4/2026).

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya, di antaranya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bulukumba, Dr. H. Abdul Rafik, M. Pd, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bulukumba Drs. KH. Tjamiruddin, serta Dr. Ikhwan Bahar, M. Pd.I (Pengurus FKUB Bulukumba).

Workshop berlangsung dalam tiga sesi utama yang disusun secara sistematis. Sesi pertama diisi oleh Ustaz Ikhwan Bahar, sesi kedua oleh Kepala Kantor Kemenag Bulukumba, dan sesi ketiga oleh Ketua MUI Kabupaten Bulukumba.

Dalam pemaparannya, Ustaz Ikhwan Bahar menekankan pentingnya pemahaman moderasi beragama sejak dini melalui dunia pendidikan.
“Moderasi beragama harus ditanamkan sejak usia dini, agar peserta didik tumbuh dengan sikap toleran, saling menghargai, dan tidak mudah terpengaruh paham ekstrem, terlebih dengan adanya media sosial yang sangat mudah mempengaruhi cara pikir anak-anak kita,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Bulukumba, Abdul Rafik menyampaikan bahwa peran guru sangat strategis dalam membentuk karakter moderat di lingkungan madrasah.
“Guru adalah garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Melalui pembelajaran yang inklusif dan berimbang, kita dapat menciptakan generasi yang rukun dan berakhlak mulia,” jelasnya.

Pada sesi terakhir, Ketua FKUB Kabupaten Bulukumba, Tjamiruddin, mengajak seluruh peserta untuk menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Moderasi beragama bukan hanya konsep, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat,” tegasnya.

Uliawati, S.Pd.I Kepala MIN 1 berharap agar ada peningkatan pemahaman tentang moderasi beragama dari workshop ini; “Dari kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman serta komitmen para tenaga pendidik dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama di madrasah, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang harmonis dan inklusif, terlebih dengan adanya kurikulum berbasis cinta yang sedang digalakkan saat ini,”.

Rilis; Asriadi
Editor; Ikhwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *